Kenapa Melawan Rasa Malas Menulis Terasa Sangat Sulit? Ini Penjelasannya!

Table of Contents
laki-laki yang sedang menulis namun bingung dan merasa sangat malas
ilustrasi seorang penulis yang bingung dan malas menulis (freepik.com/freepik)
Menulis sering kali bukan soal tidak bisa, melainkan soal tidak kuat melawan rasa malas. Anehnya, rasa malas menulis ini justru datang saat kita punya ide dan waktu yang cukup.

Banyak penulis merasa bersalah karena menunda, padahal yang mereka hadapi bukan kemalasan biasa. Ada faktor psikologis, kebiasaan, dan tekanan yang membuat menulis terasa jauh lebih berat dari yang terlihat.

Daripada bertanya-tanya kenapa? Yuk, simak tulisan Kak Aziz berikut untuk dijadikan bahan refleksi dan evaluasi terhadap diri sendiri. Simak sampai akhir, ya.

1. Otak Menganggap Menulis Sebagai Beban Berat

seorang perempuan sedang malas menulis dan berusaha meningkatkan mood dengan minum kopi
ilustrasi seorang penulis malas menulis (pexels.com/Karola G)
Menulis membutuhkan energi kognitif yang tinggi karena otak harus berpikir, menyusun, dan mengevaluasi secara bersamaan. Inilah alasan kenapa rasa malas menulis sering muncul bahkan sebelum satu kalimat tercipta.

Otak secara alami akan memilih aktivitas yang lebih mudah dan instan. Dibanding menulis, scrolling media sosial jelas terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Akibatnya, setiap kali ingin menulis, otak memberi sinyal penolakan. Bukan karena kamu tidak mampu, tetapi karena otak ingin menghemat energi.

2. Perfeksionisme Diam-Diam Menghambat Proses Menulis

ilustrasi perempuan merasa khawatir untuk mulai menulis (pexels.com)
Banyak penulis malas menulis bukan karena tidak punya ide, tetapi karena ingin hasil yang langsung bagus. Ekspektasi ini membuat langkah pertama terasa sangat berat.

Saat standar terlalu tinggi di awal, menulis terasa seperti ujian, bukan proses belajar. Akhirnya, rasa malas muncul sebagai bentuk perlindungan diri dari rasa gagal.

Perfeksionisme membuat kita lupa bahwa tulisan bagus selalu berawal dari tulisan berantakan. Jika tidak ditulis, tidak akan pernah ada yang bisa diperbaiki.

3. Takut Tulisan Tidak Dibaca atau Tidak Dihargai

ilustrasi sedang sedih (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)
Rasa malas menulis sering kali berakar dari ketakutan yang tidak disadari. Takut tidak dibaca, tidak dianggap penting, atau tidak cukup bagus dibanding tulisan orang lain.

Ketakutan ini membuat menulis terasa seperti mempertaruhkan harga diri. Semakin sering membandingkan diri, semakin besar dorongan untuk menunda.

Akhirnya, rasa malas menjadi tameng yang terlihat aman. Padahal, semakin ditunda, kepercayaan diri menulis justru makin menurun.

4. Kebiasaan Menunda yang Terus Dipelihara

ilustrasi scrolling media sosial (pexels.com/Kerde Severin)
Menunda menulis sekali mungkin terasa sepele, tetapi jika diulang akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan inilah rasa malas menulis tumbuh semakin kuat.

Setiap penundaan mengirim pesan ke otak bahwa menulis bukan prioritas. Lama-kelamaan, otak otomatis menolak aktivitas menulis tanpa disadari.

Bukan karena kamu pemalas, tetapi karena tubuh sudah terbiasa menghindar. Kebiasaan ini hanya bisa dilawan dengan langkah kecil yang konsisten, dan bisa saja sudah waktunya kamu membutuhkan teman atau lingkungan yang supportif untuk menulis.

Ada kalanya kamu memang tidak butuh tips baru, tapi teman seperjalanan. Teman yang sama-sama belajar konsisten, bukan pamer produktivitas. Kamu bisa menemukan suasana seperti itu di Komunitas Ufuk Literasi, tempat penulis saling mendukung agar tetap menulis, meski sering dilanda rasa malas.

5. Menulis Selalu Dikaitkan dengan Mood dan Inspirasi

ilustrasi mengerjakan kuis (pexels.com)
Banyak penulis menunggu mood untuk mulai menulis. Sayangnya, mood jarang datang jika tidak dipancing dengan tindakan.

Saat menulis selalu menunggu perasaan siap, rasa malas akan selalu punya alasan untuk bertahan. Akhirnya, tulisan hanya ada di kepala, bukan di halaman yang kamu mulai membukanya.

Menulis sejatinya adalah kebiasaan, bukan hasil dari inspirasi semata. Mood justru sering muncul setelah kamu mulai mengetik, bukan sebelumnya.

Rasa malas menulis bukan musuh yang harus dimusuhi, tetapi sinyal yang perlu dipahami. Dengan memahami penyebabnya, kamu bisa mulai menulis pelan-pelan tanpa merasa tertekan, karena menulis bukan soal sempurna, melainkan soal bertahan dan konsisten melawan rasa takut yang ada.

Nah, apakah sekarang kamu sudah mulai paham yang seharusnya dilakukan? Coba renungkan dan pahami lagi apa yang sebenarnya membuatmu malas menulis!

Moch Abdul Aziz
Moch Abdul Aziz Aktif sharing tips dan motivasi menulis di instagram dan tiktok dengan username @abdulaziz.writer

Posting Komentar