10 Peribahasa dengan Kata Tidur dan Maknanya

Table of Contents
perempuan tidur di depan laptop karena kelelahan
ilustrasi perempuan tidur karena kelelahan (pexels.com/http://www.kaboompics.com)
Tidur sering dimaknai sebagai jeda, tempat tubuh dan pikiran beristirahat setelah hari yang panjang. Namun dalam peribahasa, kata “tidur” justru menjelma simbol kehidupan yang penuh tekanan, rindu, luka, bahkan pengkhianatan.

Peribahasa dengan kata tidur menyimpan makna yang dalam dan relevan dengan realitas sehari-hari. Lewat ungkapan singkat, bahasa menghadirkan cermin yang jujur tentang kegelisahan, kesedihan, hingga harapan yang tak terucap.

Nah, buat kamu yang sedang mencari referensi semoga artikel kali ini membantu. Bisa kamu jadikan bahan renungan juga, yuk simak sampai akhir.

1. Tidur bertilam pasir

Peribahasa ini mempunyai makna tidur di mana saja karena tidak mempunyai tempat tinggal atau hidup serba kekurangan.

Peribahasa ini menggambarkan kondisi seseorang yang hidup tanpa kepastian dan kenyamanan. Tidur bukan lagi soal istirahat, melainkan sekadar bertahan.

“Tikar pasir” menjadi simbol kerasnya hidup yang harus dijalani tanpa pilihan. Ungkapan ini mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki privilese untuk rebah dengan tenang.

2. Tidur di atas miang (enjelai)

Artinya: tidak dapat merasakan ketenangan dan selalu gelisah.

Miang menimbulkan rasa gatal dan tidak nyaman, sehingga mustahil untuk terlelap dengan damai. Begitulah gambaran hati yang sedang dipenuhi kecemasan.

Peribahasa ini sering dikaitkan dengan rasa bersalah atau tekanan batin. Secara emosional, seseorang seperti berbaring di atas kegelisahan yang tak kunjung reda.

3. Tidur tak lelap, makan tak kenyang

Selanjutnya, mempunyai arti sangat gelisah karena sedang bersusah hati dan banyak pikiran.

Ungkapan ini menegaskan bahwa beban pikiran mampu merampas dua kebutuhan dasar manusia yaitu makan dan tidur. Ketika hati tidak tenang, segala hal terasa hambar.

Ini bukan sekadar soal fisik yang lelah, tetapi jiwa yang sedang limbung. Peribahasa ini relevan untuk menggambarkan stres, patah hati, atau tekanan hidup.

4. Bersesak-sesak bagai ular tidur

Artinya seseorang yang terus-menerus didesak, misalnya ditagih utang berulang-ulang.

Ular yang tidur dalam keadaan terhimpit akan merasa tertekan dan sulit bergerak. Begitu pula seseorang yang hidupnya terasa sempit karena tekanan dari luar.

Peribahasa ini menggambarkan kondisi tidak nyaman akibat desakan yang tiada henti. Hidup terasa sesak karena ruang bernapas semakin sempit.

5. Mata tidur, bantal terjaga

Peribahasa ini mempunyai makna: istri yang berlaku serong ketika suaminya sangat percaya kepadanya.

Secara harfiah, ungkapan ini terdengar tenang dan biasa saja. Namun maknanya menyimpan kritik sosial tentang pengkhianatan dalam hubungan.

“Mata tidur” melambangkan kelengahan, sedangkan “bantal terjaga” menjadi simbol adanya rahasia. Peribahasa ini mengingatkan bahwa kepercayaan adalah fondasi yang tidak boleh dikhianati.

6. Minum serasa duri, makan serasa lilin, tidur tak lena, mandi tak basah

Artinya sangat bersusah hati hingga segala sesuatu terasa tidak nikmat.

Peribahasa ini menampilkan gambaran penderitaan yang menyeluruh dan intens. Aktivitas sehari-hari yang biasanya menyenangkan berubah menjadi hambar.

Kesedihan yang dalam mampu mengubah rasa dan makna hidup. Ketika hati terluka, dunia pun terasa kehilangan warnanya.

7. Tidur bertilam air mata

Untuk yang satu ini, mempunyai arti sangat sedih atau merindukan seseorang.

Air mata menjadi alas tidur yang metaforis, menggambarkan malam yang basah oleh tangisan. Rindu dan kesedihan hadir tanpa bisa dicegah.

Peribahasa ini sering dikaitkan dengan cinta dan perpisahan. Ia menunjukkan bahwa malam adalah waktu paling jujur bagi hati yang kehilangan.

8. Tidur-tidur ayam

Artinya, tidur yang tidak nyenyak dan mudah terbangun.

Ayam dikenal tidur dengan kondisi yang tetap waspada terhadap sekitar. Begitu pula seseorang yang hatinya tidak benar-benar tenang.

Ungkapan ini bisa menggambarkan kecemasan atau rasa takut yang tersembunyi. Secara makna, ia menunjukkan kewaspadaan yang tak pernah benar-benar padam.

9. Tidur di balik duka, terjaga dalam lara

Artinya tampak tenang, padahal menyimpan kesedihan mendalam.

Peribahasa ini menggambarkan ironi antara tampilan luar dan kondisi batin. Seseorang terlihat biasa saja, tetapi hatinya penuh luka.

Ia mengajarkan bahwa tidak semua kesedihan terlihat jelas. Ada duka yang dipendam rapat demi menjaga wajah tetap tegar.

10. Tidur beralas rindu, berselimut kenangan

Peribahasa ini mempunyai arti sangat merindukan seseorang hingga malam terasa penuh kenangan.

Rindu menjelma alas dan selimut yang menyelimuti setiap malam. Kenangan hadir tanpa diminta dan sulit untuk dihindari.

Peribahasa ini sarat nuansa puitis dan emosional. Ia menggambarkan betapa kuatnya cinta yang tetap hidup meski jarak memisahkan.

Peribahasa dengan kata tidur membuktikan bahwa bahasa Indonesia kaya akan simbol dan makna tersembunyi. Dari gelisah, rindu, hingga pengkhianatan, semuanya bisa dirangkum dalam satu kata sederhana: tidur.

Memahami makna peribahasa bukan hanya soal mengetahui arti, tetapi juga membaca kehidupan dari sudut yang lebih dalam. Jadi, dari sepuluh peribahasa tentang tidur di atas, mana yang paling menggambarkan kondisi hatimu saat ini?

Moch Abdul Aziz
Moch Abdul Aziz Aktif sharing tips dan motivasi menulis di instagram dan tiktok dengan username @abdulaziz.writer

Posting Komentar