9 Cara Merevisi Artikel agar Siap Dipublikasikan dan Minim Kesalahan

Table of Contents
seorang penulis sedang merevisi artikel
ilustrasi seorang penulis sedang merevisi artikel (pexels.com/cottonbro studio)

Menulis artikel hingga selesai memang sebuah pencapaian. Namun, jangan terburu-buru menekan tombol "Publish" atau "Submit". Justru, kualitas sebuah artikel sering kali ditentukan pada tahap revisi yang dilakukan setelah proses menulis selesai.

Banyak penulis pemula merasa pekerjaannya selesai ketika berhasil mengetik kalimat terakhir. Padahal, hampir semua penulis profesional selalu meluangkan waktu untuk membaca ulang, memperbaiki, hingga menyempurnakan tulisannya sebelum dipublikasikan. Semakin teliti proses revisinya, semakin kecil pula kemungkinan pembaca menemukan kesalahan yang mengganggu.

Revisi bukan berarti mencari kesalahan semata. Tahap ini bertujuan memastikan artikel benar-benar nyaman dibaca, mudah dipahami, serta layak dipublikasikan. Nah, sebelum mengirimkan artikel ke media atau menerbitkannya di blog pribadi, berikut sembilan cara merevisi artikel agar hasil tulisanmu semakin maksimal. Simak sampai akhir, ya.

1. Istirahat sejenak sebelum mulai merevisi

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis adalah langsung merevisi artikel sesaat setelah selesai menulis. Padahal, ketika baru selesai mengetik, otak masih terlalu akrab dengan isi tulisan sehingga banyak kesalahan yang justru tidak terlihat.

Jika memungkinkan, berilah jeda beberapa jam atau bahkan satu hari sebelum membuka kembali artikel tersebut. Dengan begitu, kamu akan membacanya seperti seorang pembaca baru sehingga lebih mudah menemukan kalimat yang kurang efektif maupun pembahasan yang terasa janggal.

Tidak perlu menunggu terlalu lama apabila artikel harus segera dipublikasikan. Bahkan jeda sekitar tiga puluh menit pun sudah cukup membantu menyegarkan pikiran sebelum melakukan revisi. Semakin objektif kamu membaca tulisan sendiri, semakin besar peluang menghasilkan artikel yang berkualitas.

2. Baca ulang artikel dari awal hingga akhir

Langkah berikutnya adalah membaca ulang seluruh artikel tanpa terburu-buru. Fokuskan perhatian pada alur pembahasan, bukan hanya pada kesalahan penulisan. Pastikan setiap paragraf saling terhubung dan mendukung topik utama yang sedang dibahas.

Saat membaca, cobalah membayangkan dirimu sebagai pembaca yang belum pernah mengetahui topik tersebut. Apakah penjelasannya sudah mudah dipahami? Apakah ada bagian yang terasa membingungkan atau melompat terlalu jauh?

Apabila menemukan paragraf yang kurang jelas, jangan ragu untuk menulis ulang. Terkadang satu paragraf baru justru mampu menjelaskan sebuah gagasan jauh lebih baik daripada mempertahankan kalimat lama. Biasakan membaca artikel secara menyeluruh sebelum mulai memperbaiki bagian-bagian kecil agar revisi menjadi lebih efektif.

3. Lengkapi pembahasan yang masih terasa kurang

Ketika proses menulis berlangsung, ada kalanya beberapa poin hanya dijelaskan secara singkat karena ingin segera menyelesaikan artikel. Oleh sebab itu, revisi menjadi waktu yang tepat untuk menambahkan informasi yang masih kurang.

Perhatikan kembali setiap subjudul. Apakah semua poin sudah memiliki penjelasan yang cukup? Apakah pembaca dapat memahami maksud pembahasan tanpa harus mencari informasi tambahan di tempat lain?

Misalnya, jika kamu menulis artikel bertipe listicle, pastikan setiap poin memiliki penjelasan yang seimbang. Jangan sampai poin pertama dijelaskan sangat panjang, sedangkan poin terakhir hanya terdiri atas satu paragraf singkat. Artikel yang lengkap akan memberikan pengalaman membaca yang jauh lebih baik dibandingkan artikel yang pembahasannya terasa setengah jadi.

4. Perbaiki kalimat yang bertele-tele

Kalimat yang terlalu panjang sering kali membuat pembaca kehilangan fokus. Karena itu, cobalah membaca setiap paragraf secara perlahan lalu periksa apakah ada bagian yang sebenarnya dapat disampaikan dengan kalimat yang lebih sederhana.

Hindari penggunaan kata-kata yang berulang tanpa memberikan informasi baru. Selain membuat artikel terasa panjang, hal tersebut juga dapat mengurangi kenyamanan pembaca ketika mengikuti alur tulisan.

Sebaliknya, jangan pula membuat kalimat terlalu pendek hingga terasa kaku. Usahakan setiap paragraf mengalir seperti seseorang sedang menjelaskan sebuah topik kepada temannya. Semakin efektif kalimat yang digunakan, semakin mudah pula pembaca memahami isi artikel hingga selesai.

5. Periksa ejaan, tanda baca, dan huruf kapital

Kesalahan kecil seperti salah ketik, penggunaan koma yang kurang tepat, atau huruf kapital yang tidak konsisten memang terlihat sepele. Namun, jika jumlahnya terlalu banyak, kredibilitas tulisanmu bisa ikut berkurang.

Luangkan waktu untuk memeriksa ejaan sesuai kaidah bahasa Indonesia. Perhatikan pula penggunaan tanda baca, kata baku, penulisan istilah asing, maupun format penulisan angka apabila diperlukan.

Banyak editor media online langsung menilai kualitas sebuah artikel dari kerapian penulisannya. Oleh sebab itu, jangan menganggap tahap ini sebagai formalitas semata. Artikel yang rapi menunjukkan bahwa penulis benar-benar menghargai waktu dan kenyamanan pembacanya.

6. Pastikan judul benar-benar sesuai dengan isi

Judul merupakan bagian pertama yang dibaca seseorang sebelum memutuskan membuka artikel. Oleh karena itu, pastikan isi artikel benar-benar mampu memenuhi harapan yang dibangun melalui judul tersebut.

Jangan menggunakan judul yang terlalu berlebihan hanya demi menarik perhatian pembaca. Apabila isi artikel tidak sesuai, pembaca justru akan merasa kecewa dan meninggalkan halaman artikel tersebut lebih cepat.

Misalnya, jika judul menyebutkan 9 cara, pastikan memang terdapat sembilan pembahasan utama di dalam artikel. Hindari mengurangi atau menambahkan poin tanpa menyesuaikan kembali judulnya. Keselarasan antara judul dan isi akan membuat artikel terasa lebih profesional sekaligus meningkatkan kepercayaan pembaca.

7. Minta orang lain membaca tulisanmu

Sering kali kita terlalu terbiasa dengan tulisan sendiri sehingga sulit menemukan kekurangannya. Karena itu, tidak ada salahnya meminta teman, mentor, atau sesama penulis untuk membaca artikel sebelum dipublikasikan.

Mintalah mereka memberikan masukan secara jujur mengenai bagian yang masih membingungkan, terlalu panjang, atau kurang menarik. Jangan hanya bertanya apakah artikelnya sudah bagus, tetapi tanyakan pula alasan di balik setiap saran yang mereka berikan.

Tidak semua kritik harus langsung diterapkan. Pilihlah masukan yang benar-benar membantu meningkatkan kualitas artikel sesuai tujuan penulisanmu. Semakin banyak sudut pandang yang diterima, semakin mudah pula kamu melihat kelemahan yang sebelumnya tidak disadari.

8. Periksa kembali gambar dan sumber pendukung

Apabila artikel menggunakan gambar, infografik, maupun data tertentu, pastikan semuanya sudah sesuai dengan isi pembahasan. Jangan sampai gambar yang dipilih justru membingungkan atau tidak memiliki hubungan dengan poin yang sedang dijelaskan.

Selain relevan, perhatikan pula sumber gambar yang digunakan. Hindari mengambil gambar secara sembarangan tanpa memperhatikan hak cipta. Gunakan gambar dari sumber yang memang memperbolehkan penggunaan ulang atau milikmu sendiri.

Begitu pula jika artikel memuat data maupun kutipan tertentu. Pastikan sumber referensinya jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Kelengkapan seperti ini akan membuat artikel terlihat lebih profesional sekaligus meningkatkan kepercayaan pembaca.

9. Bayangkan artikelmu akan dibaca ribuan orang

Sebelum menekan tombol publikasi, coba tanyakan satu hal kepada dirimu sendiri: apakah artikel ini sudah benar-benar siap dibaca banyak orang?

Bayangkan tulisanmu muncul di halaman utama sebuah media nasional atau dibagikan kepada ribuan pembaca melalui media sosial. Pikiran seperti ini biasanya membuatmu lebih teliti ketika melakukan pengecekan terakhir.

Bukan berarti artikel harus sempurna, karena setiap penulis pasti masih terus belajar. Namun, setidaknya kamu sudah berusaha memberikan versi terbaik dari tulisan yang dimiliki saat ini. Semangat untuk terus memperbaiki kualitas tulisan merupakan salah satu ciri penulis yang akan berkembang dalam jangka panjang.

Merevisi artikel memang membutuhkan waktu tambahan, tetapi hasilnya sebanding dengan kualitas tulisan yang akan dipublikasikan. Bahkan, tidak sedikit artikel yang awalnya biasa saja berubah menjadi jauh lebih menarik setelah melalui proses revisi yang teliti.

Mulai sekarang, jangan jadikan revisi sebagai tahap yang ingin segera dilewati. Anggaplah proses ini sebagai kesempatan terakhir untuk menyempurnakan tulisan sebelum dinikmati oleh banyak pembaca. Semakin sering kamu membiasakan diri melakukan revisi, semakin cepat pula kemampuan menulismu berkembang dari waktu ke waktu.

Moch Abdul Aziz
Moch Abdul Aziz Aktif sharing tips dan motivasi menulis di instagram dan tiktok dengan username @abdulaziz.writer

Posting Komentar