7 Hal yang Berubah dalam Hidup Saya Setelah Menulis 500+ Artikel

Table of Contents
seorang penulis menulis artikel
ilustrasi seorang penulis menulis artikel (pexels.com/Min An)
"Apa manfaat menulis artikel?"

Kalau pertanyaan itu datang kepada saya lima tahun lalu, mungkin jawabannya sederhana: agar tulisan dibaca orang. Namun, hari ini jawaban itu sudah berubah.

Sejak mulai serius menulis pada tahun 2020 dan konsisten menerbitkan artikel sejak 2021, saya telah menghasilkan lebih dari 500 artikel di berbagai platform. Sebagian terbit di IDN Times, sebagian di blog pribadi abdulaziz.id, sebagian lagi di Medium, hingga blog komunitas Ufuk Literasi yang juga saya kelola sebagai editor.

Awalnya, saya hanya ingin berbagi gagasan. Tidak pernah terlintas bahwa kebiasaan sederhana menulis satu demi satu artikel akan membawa begitu banyak perubahan dalam hidup saya. Perubahan itu tidak datang dalam semalam.

Tidak ada artikel yang langsung viral. Tidak ada pencapaian yang instan. Semua bertumbuh perlahan, seiring ratusan malam yang dihabiskan di depan smartphone dan laptop, berkali-kali merevisi tulisan, belajar SEO, memahami pembaca, hingga terus mencoba meski beberapa artikel nyaris tidak ada yang membaca.

Kalau hari ini ada yang bertanya, "Seberapa jauh menulis mengubah hidupmu?", inilah jawaban saya.

1. Menulis Mengubah Cara Saya Berpikir

Sebelum rajin menulis, saya sering memiliki banyak ide, tetapi sulit menyusunnya menjadi sesuatu yang utuh.

Menulis memaksa saya berpikir lebih runtut. Saya belajar mencari data, memahami sudut pandang yang berbeda, menyusun argumen, lalu menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Tanpa saya sadari, kebiasaan itu terbawa ke kehidupan sehari-hari. Saat berdiskusi, menjelaskan materi, atau menyampaikan pendapat, saya merasa lebih mudah merangkai kata-kata. Bukan karena saya pandai berbicara, tetapi karena saya sudah terbiasa "berdialog" dengan tulisan.

Kosakata pun bertambah. Cara menyampaikan gagasan menjadi lebih mengalir. Ternyata, manfaat terbesar menulis bukan hanya menghasilkan artikel, tetapi membentuk cara kita berpikir.

2. Menulis Membuat Saya Berani Menunjukkan Karya kepada Dunia

Dulu saya sering ragu.
  • Apakah tulisan saya cukup bagus?"

  • "Bagaimana kalau tidak ada yang membaca?"

  • "Bagaimana kalau dikritik?"
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin pernah dirasakan hampir semua penulis. Namun saya belajar satu hal.

Tulisan yang disimpan di laptop tidak akan pernah memberikan manfaat kepada siapa pun. Karena itu saya mulai memberanikan diri menerbitkan tulisan secara konsisten.

Ada artikel yang hanya dibaca puluhan orang. Ada yang ratusan. Ada pula yang menjangkau ribuan pembaca.

Semuanya mengajarkan satu pelajaran penting: keberanian untuk mempublikasikan karya jauh lebih penting daripada menunggu sempurna.

3. Menulis Menjadi Portofolio yang Membuka Banyak Kesempatan

Saya sering mengatakan kepada peserta kelas menulis bahwa artikel bukan sekadar tulisan. Artikel adalah portofolio.

Setiap artikel yang kita terbitkan sebenarnya sedang memperkenalkan diri kepada orang-orang yang bahkan belum pernah kita temui.

Saya merasakan sendiri manfaatnya. Dari kebiasaan menulis, saya dipercaya menjadi guru matematika sekaligus mendapat amanah sebagai PIC Branding dan Literasi di sekolah.

Bukan karena saya memiliki gelar di bidang komunikasi. Melainkan karena orang lain bisa melihat rekam jejak saya melalui tulisan-tulisan yang telah saya publikasikan.

Selain itu, saya juga memperoleh kesempatan menjadi narasumber, dipercaya menjadi juri dalam beberapa kegiatan kepenulisan di kampus, hingga mendapatkan berbagai kolaborasi dengan berbagai pihak. Semua itu berawal dari satu hal sederhana, yaitu menulis.

4. Menulis Membantu Saya Membangun Personal Branding

Di era digital, orang sering mengenal kita sebelum bertemu secara langsung. Mereka mengetik nama kita di Google, mereka membuka media sosial, dan mereka juga membaca tulisan yang pernah kita buat.

Karena itulah saya mulai menyadari bahwa setiap artikel bukan hanya memberikan informasi kepada pembaca, tetapi juga sedang membangun identitas digital saya. Hari ini, konten-konten yang saya bagikan di Instagram, blog, maupun platform lainnya sebenarnya saling terhubung.

Banyak ide konten berawal dari artikel. Dari artikel tersebut kemudian diadaptasi menjadi carousel, video singkat, atau materi diskusi.

Satu tulisan bisa memiliki umur yang jauh lebih panjang ketika kita mampu mengolahnya ke berbagai format. Itulah mengapa menulis menjadi fondasi dari seluruh proses membangun personal branding saya.

5. Menulis Menghadirkan Berbagai Sumber Penghasilan


Jawaban saya, bisa. Namun bukan hanya dari honor menulis. Justru peluang terbesar sering datang dari efek domino yang diciptakan oleh tulisan.

Dari aktivitas menulis, saya mulai mendapatkan berbagai peluang seperti kerja sama konten, backlink, kelas menulis, proyek kolaborasi, hingga kesempatan lain yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Saya belajar bahwa artikel bukan hanya produk. Artikel adalah aset digital. Satu artikel yang dipublikasikan hari ini bisa tetap ditemukan orang melalui Google bertahun-tahun kemudian.

Semakin banyak aset digital yang kita miliki, semakin besar pula peluang datangnya kesempatan baru.

6. Menulis Memungkinkan Saya Membagikan Dampak kepada Lebih Banyak Orang

Inilah bagian yang paling saya syukuri. Hari ini, lebih dari seribu orang bergabung di komunitas WhatsApp Ufuk Literasi. Puluhan hingga ratusan peserta telah mengikuti berbagai kelas menulis yang saya selenggarakan.

Menariknya, sebagian besar dari mereka mengenal saya bukan karena bertemu secara langsung. Mereka datang karena membaca artikel atau menemukan konten yang berasal dari artikel-artikel tersebut.

Ada yang mengirim pesan sederhana seperti, "Terima kasih, Kak. Artikelnya membantu saya."

Ada pula yang bercerita bahwa mereka berhasil menerbitkan tulisan pertamanya setelah mengikuti kelas yang saya selenggarakan. Bagi saya, momen-momen seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar melihat angka tayangan.

Karena saat itulah saya menyadari bahwa tulisan benar-benar bisa menjadi jalan untuk memberi manfaat yang lebih luas lagi.

7. Menulis Membuat Saya Percaya Bahwa Konsistensi Selalu Menemukan Jalannya

Kalau hari ini saya melihat ke belakang, saya sadar bahwa tidak ada satu artikel pun yang langsung mengubah hidup saya. Yang mengubah hidup saya adalah kebiasaan menulis itu sendiri.

Satu artikel. Lalu artikel berikutnya. Kemudian terus berlanjut hingga jumlahnya ratusan. Perubahan besar ternyata dibangun oleh kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Hari ini saya bersyukur pernah memulai. Saya bersyukur pernah bertahan ketika artikel belum banyak dibaca. Dan Saya juga bersyukur tidak berhenti ketika hasilnya belum terlihat. Karena ternyata konsistensi selalu menemukan jalannya.

Beberapa Bukti Nyata yang Saya Rasakan

Selama lima tahun terakhir, kebiasaan menulis membawa saya pada berbagai pencapaian yang dulu bahkan tidak pernah saya bayangkan.
  • 500+ artikel telah diterbitkan di berbagai platform.

  • Aktif menulis di IDN Times, Abdulaziz.id, Medium, dan UfukLiterasi.com.

  • Dipercaya menjadi guru sekaligus PIC Branding dan Literasi.

  • Menerbitkan 4 buku.

  • Membangun komunitas menulis dengan lebih dari 1.000 anggota.

  • Membimbing ratusan peserta melalui berbagai kelas menulis.

  • Memiliki lebih dari 34 ribu pengikut di Instagram.

  • Blog memperoleh lebih dari 6.000 klik dan 1,18 juta tayangan dalam 12 bulan terakhir.

  • Mendapat berbagai peluang kolaborasi, backlink, hingga proyek profesional yang berawal dari tulisan.
Semua itu tidak terjadi dalam satu malam. Semuanya lahir dari kebiasaan sederhana yaitu terus menulis.

Jadi, Apa Selanjutnya?

Kalau ada satu pelajaran yang ingin saya bagikan melalui artikel ini, mungkin ini jawabannya. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Justru karena kita terus menulis, perlahan kita akan menjadi lebih baik.

Mungkin artikel pertama hanya dibaca belasan orang. Artikel kedua tidak mendapat respons. Artikel ketiga bahkan nyaris terlupakan.

Tidak apa-apa. Karena kita tidak pernah tahu artikel ke berapa yang akan mengubah hidup kita. 

Saya ketika awal menulis di IDN Times juga sampai empatbelas artikel tanpa kabar. Baru di artikel kelimabelas ada notifikasi revisi dan akhirnya bisa terbit juga.

Bayangkan saja jika saya benar-benar berhenti di artikel keempatbelas. Mungkin belum tentu kita sampai di tahap ini, bisa belajar bersama.

Bagi saya, menulis bukan lagi sekadar hobi. Menulis adalah investasi jangka panjang.

Ia membangun cara berpikir, membuka kesempatan, menghadirkan rezeki, memperluas relasi, hingga memungkinkan kita meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan.

Dan dari semua perubahan yang saya rasakan, ternyata bukan jumlah artikel, bukan angka tayangan, ataupun peluang kerja yang paling membekas. 

Momen yang paling saya syukuri justru ketika seseorang berkata: "Terima kasih. Artikel yang Kak Aziz tulis benar-benar membantu saya."

Saat itulah saya sadar bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya. Menulis adalah cara sederhana untuk membuat hidup kita bermanfaat bagi orang lain. Kalau hari ini kamu masih ragu untuk mulai menulis, izinkan saya menitipkan satu kalimat.
Mungkin artikel pertamamu tidak akan mengubah hidupmu secara langsung. Tetapi siapa tahu, artikel ke-100, ke-250, atau bahkan ke-500-lah yang akan membawamu pada kesempatan yang hari ini belum pernah kamu bayangkan.

Nah, kalau kamu juga masih bingung mulai belajar menulis artikel darimana. Kamu bisa ikut bimbingan di kelas artikel yang diselenggarakan Ufuk Literasi dan akan dimentori langsung oleh saya. 

Kelas ini sudah diikuti lebih dari 200 alumni. Kalau tertarik silakan daftar sekarang untuk mengamankan kuotanya karena terbatas.

Moch Abdul Aziz
Moch Abdul Aziz Aktif sharing tips dan motivasi menulis di instagram dan tiktok dengan username @abdulaziz.writer

Posting Komentar