7 Cara Mengatasi Artikel yang Ditolak agar Tetap Berpeluang Terbit
Table of Contents
Konten Eksklusif
Masukkan username dan password untuk mengakses postingan ini:
Akses Dilindungi
Silakan bergabung ke Verified Member untuk membaca artikel premium.
Gabung Sekarang![]() |
| ilustrasi penulis menyusun strategi untuk mengolah artikel ditolak (pexels.com/Boris Pavlikovsky) |
Tidak semua artikel akan langsung diterbitkan. Ada yang harus direvisi, menunggu cukup lama, bahkan ditolak begitu saja. Jika saat ini artikelmu belum kunjung terbit, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kemampuan menulismu kurang baik.
Penolakan adalah bagian dari proses yang hampir dialami setiap penulis, terutama ketika masih berada di tahap belajar. Kabar baiknya, masih banyak hal yang dapat dilakukan agar artikel tersebut tetap memiliki peluang untuk dipublikasikan. Berikut beberapa langkah yang bisa kamu coba.
1. Pahami Alasan Artikel Belum Diterbitkan
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami terlebih dahulu status artikel yang kamu kirimkan. Setiap platform biasanya memiliki sistem moderasi yang berbeda. Ada artikel yang langsung diterbitkan, ada yang masih menunggu antrean, ada pula yang mendapatkan permintaan revisi atau bahkan ditolak.
Jangan langsung menganggap semua artikel yang belum tayang berarti gagal. Bisa saja editor masih memprioritaskan artikel lain yang masuk lebih dahulu atau sedang melakukan proses peninjauan.
Karena itu, biasakan mengecek status artikel secara berkala sebelum mengambil keputusan berikutnya. Jika platform memberikan keterangan atau catatan dari editor, bacalah dengan teliti.
Catatan tersebut justru menjadi kesempatan untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Semakin baik kamu memahami penyebabnya, semakin mudah menentukan langkah selanjutnya.
2. Lakukan Revisi Sesuai Masukan Editor
Apabila editor memberikan permintaan revisi, usahakan untuk segera mengerjakannya. Jangan hanya memperbaiki sebagian kecil lalu langsung mengirim ulang. Bacalah kembali artikel secara menyeluruh agar hasil revisi benar-benar maksimal.
Perhatikan setiap saran yang diberikan, baik mengenai isi, struktur, penggunaan bahasa, maupun kelengkapan data pendukung. Sering kali perubahan sederhana, seperti memperjelas penjelasan atau mengganti judul yang kurang menarik, dapat meningkatkan peluang artikel diterbitkan.
Anggap proses revisi sebagai kesempatan belajar, bukan hukuman. Banyak penulis berkembang justru karena terbiasa menerima masukan dan memperbaiki tulisannya secara bertahap.
3. Kirimkan Ulang Artikel dengan Versi yang Lebih Baik
Tidak semua artikel mendapatkan status revisi. Ada kalanya tulisan hanya berstatus pending atau tidak kunjung dipublikasikan dalam waktu yang cukup lama. Jika hal tersebut terjadi, kamu dapat mempertimbangkan untuk memperbarui artikel dan mengirimkannya kembali dalam versi yang lebih baik.
Misalnya, tambahkan referensi terbaru, perbaiki alur pembahasan, lengkapi poin-poin yang masih kurang, atau ubah judul agar lebih menarik. Jangan hanya mengirim ulang artikel yang sama tanpa perubahan berarti.
Agar proses ini lebih mudah dilakukan, biasakan menyimpan salinan artikel di komputer, layanan penyimpanan drive, atau aplikasi pengolah kata. Dengan begitu, kamu dapat melakukan penyuntingan kapan saja tanpa harus menulis ulang dari awal.
4. Coba Kirimkan ke Platform Lain
Satu artikel yang ditolak di suatu platform belum tentu akan mengalami nasib yang sama di tempat lain. Setiap media memiliki karakter pembaca, gaya bahasa, dan standar editorial yang berbeda-beda.
Misalnya, artikel yang kurang sesuai untuk media A bisa jadi justru lebih cocok diterbitkan oleh media B. Karena itu, jangan terpaku hanya pada satu platform. Semakin banyak kamu mengenal karakter berbagai media, semakin besar pula peluang tulisanmu menemukan tempat yang tepat.
Meski begitu, pastikan kamu membaca ketentuan setiap platform sebelum mengirimkan artikel. Hindari mengirim artikel yang sama secara bersamaan ke beberapa media sekaligus apabila aturan mereka tidak memperbolehkannya.
5. Terbitkan di Blog Pribadi jika Memang Layak
Apabila berbagai upaya sudah dilakukan tetapi artikel tetap belum mendapatkan tempat di media tujuan, bukan berarti tulisan tersebut harus berhenti di folder komputer atau laptop. Salah satu alternatif terbaik adalah menerbitkannya di blog pribadi.
Dengan memiliki blog sendiri, kamu mempunyai kebebasan menentukan topik, gaya penulisan, maupun jadwal publikasi. Artikel yang sebelumnya ditolak masih dapat memberikan manfaat bagi pembaca sekaligus menambah portofolio kepenulisanmu.
Siapa tahu justru tulisan yang awalnya tidak diterima di media tertentu mampu mendatangkan banyak pembaca melalui mesin pencari. Selama kualitasnya tetap dijaga dan isi artikelnya bermanfaat, blog pribadi dapat menjadi aset jangka panjang bagi seorang penulis.
6. Jadikan Penolakan sebagai Bahan Evaluasi
Rasa kecewa setelah artikel ditolak tentu wajar. Namun, jangan berhenti hanya pada rasa kecewa tersebut. Cobalah mengevaluasi kembali tulisan yang telah dibuat secara objektif.
Bacalah artikel itu seolah-olah kamu adalah pembaca baru. Apakah pembahasannya mudah dipahami? Apakah judulnya cukup menarik? Apakah setiap poin sudah dijelaskan dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu menemukan kekurangan yang sebelumnya tidak disadari. Semakin sering melakukan evaluasi, kemampuan menulismu juga akan berkembang. Penolakan bukan tanda bahwa kamu tidak berbakat, melainkan sinyal bahwa masih ada ruang untuk belajar menjadi lebih baik.
7. Jangan Berhenti Menulis Artikel Baru
Kesalahan terbesar setelah menerima penolakan adalah berhenti menulis. Padahal, satu artikel hanyalah sebagian kecil dari perjalanan panjang seorang penulis. Jangan habiskan waktu hanya untuk menunggu satu naskah mendapatkan keputusan.
Sambil menunggu proses moderasi, mulailah menulis artikel berikutnya. Semakin banyak artikel yang kamu hasilkan, semakin besar pula peluang ada tulisan yang berhasil diterbitkan. Selain itu, kemampuan menulis juga akan meningkat karena terus diasah melalui latihan.
Banyak penulis berpengalaman menerapkan prinsip sederhana, yaitu tulis, kirimkan, lalu lanjut menulis lagi. Dengan cara ini, perhatian tidak hanya terfokus pada satu artikel, melainkan pada proses belajar yang berlangsung secara terus-menerus.
Menolak menyerah jauh lebih penting daripada sekadar menghindari penolakan. Setiap artikel yang belum berhasil diterbitkan sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang baru kepada penulisnya. Teruslah mengevaluasi tulisan, memperbaiki kualitas, dan mencoba kembali dengan semangat yang sama.
Ingat, hampir semua penulis pernah mengalami penolakan. Yang membedakan mereka hanyalah satu hal, yaitu mereka tidak berhenti menulis setelah ditolak. Siapa tahu, artikel berikutnya justru menjadi tulisan pertama yang berhasil diterbitkan dan membuka banyak kesempatan baru dalam perjalananmu sebagai penulis.
Yuk, belajar menulis artikel juga lebih intensif bersama Ufuk Literasi. Dapatkan konsultasi dan feedback di akhir penugasan artikel kamu supaya lebih siap dipubikasikan.

Posting Komentar