Berapa Lama Proses Penerbitan Buku Ber-ISBN? Ini Tahapan dan Estimasinya!
![]() |
| ilustrasi buku di perpustakaan (pexels.com/Bushra Islam) |
Secara umum, proses ISBN di Indonesia dikelola melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Namun, cepat atau lambatnya terbit bukan hanya soal ISBN keluar, melainkan rangkaian proses sebelum dan sesudahnya.
Berikut 5 faktor utama yang menentukan durasi penerbitan buku ber-ISBN, lengkap dengan estimasi realistisnya. Baca sampai selesai dan bagikan ke teman penulis kamu yang penasaran, ya.
1. Kesiapan Naskah Sejak Awal
![]() |
| ilustrasi perempuan membaca buku (pexels.com/Виктория Билан) |
Penerbit profesional biasanya tidak langsung mengajukan ISBN sebelum naskah lolos tahap internal. Artinya, jika revisi memakan waktu 2–4 minggu, maka timeline otomatis ikut mundur.
a. Editing dan Proofreading
Tahap ini sering diremehkan padahal paling menentukan. Editing ringan bisa selesai 1–2 minggu, tetapi editing menyeluruh bisa sampai 1 bulan tergantung ketebalan buku yang akan diterbitkan.
Jika penulis responsif saat revisi, proses lebih cepat. Namun jika revisi bolak-balik dan lama dikembalikan, durasi bisa makin lama tanpa terasa.
b. Layout dan Desain Cover
Setelah naskah final, buku masuk tahap layout dan desain cover. Proses ini rata-rata 1–3 minggu tergantung antrean dan revisi desain.
Buku tidak bisa diajukan ISBN tanpa cover dan kumpulan data penunjang yang lengkap. Jadi meskipun naskah selesai, desain yang belum final tetap menahan proses.
2. Sistem dan Antrean Penerbit
![]() |
| ilustrasi seseorang menggunakan excel saat bekerja di kantor (freepik.com/freepik) |
Jika penerbit sedang membuka banyak batch naskah, maka prioritas bisa berubah. Beberapa penerbit bahkan memiliki sistem antrean 1–3 bulan sebelum ISBN diajukan.
Berdasarkan pengalaman Kak Aziz, buku bisa terbit hanya dalam 1–2 minggu jika naskah sangat siap dan penerbit tidak sedang overload. Namun dalam kondisi lain, proses bisa mencapai 2–4 bulan, bahkan lebih.
Pada dasarnya, cepat bukan selalu berarti profesional, dan lama bukan selalu berarti buruk. Yang penting transparansi timeline sejak awal.
3. Proses Pengajuan ISBN dan Administrasi
![]() |
| ilustrasi penerbitan buku (freepik.com/senivpetro) |
Namun, ISBN tidak berdiri sendiri karena ada kelengkapan data-data lainnya seperti judul final, penulis, ukuran buku, jumlah halaman, hingga detail lainnya. Jika ada data yang salah, pengajuan bisa ditolak atau diminta revisi.
Beberapa berkas yang biasanya dibutuhkan antara lain:
- File isi final (PDF siap cetak)
- Desain cover lengkap
- Surat pernyataan penerbit
- Data penulis dan deskripsi buku
Jika semua siap sejak awal, tahap ini tidak akan memakan waktu lama. Tetapi jika ada dokumen yang kurang, proses bisa tertunda tanpa kepastian. Tapi, ini hanya beberapa, masih mungkin ada data lain sesuai kebijakan dari penerbit juga.
4. Jenis Buku dan Kebijakan yang Berlaku
![]() |
| ilustrasi kumpulan buku (pexels.com/pixabay) |
Beberapa tahun terakhir, penerbitan antologi sangat masif di Indonesia. Akibatnya, ada pengetatan dan selektivitas lebih ketat terhadap jenis buku tertentu.
Antologi bukan berarti tidak bisa mendapatkan ISBN, tetapi peluangnya kini lebih selektif dibanding sebelumnya. Ini menjadi catatan penting bagi penulis yang ingin menerbitkan buku kolaborasi.
Intinya, kualitas dan tujuan dalam menerbitkan buku kini semakin diperhatikan. ISBN bukan sekadar formalitas, tetapi identitas resmi publikasi yang harus dipertanggungjawabkan.
Tapi, tenang saja, karena sudah ada solusi lain menerbitkan buku tanpa ISBN, yaitu dengan QRCBN. Kamu bisa search lebih lanjut terkait hal ini, ya. Solusi ini dapat digunakan untuk buku-buku antologi, ataupun penulis yang ingin lebih cepat melakukan cetak karyanya.
5. Strategi Penulis dalam Mengelola Timeline
![]() |
| ilustrasi membawa buku kemana saja (pexels.com/Andrea Piacquadio) |
Jika ingin buku cepat terbit, penulis perlu menyiapkan semuanya sejak awal. Mulai dari naskah matang, sinopsis jelas, biodata penulis, hingga positioning buku di pasar.
Estimasi realistis proses penerbitan buku ber-ISBN di Indonesia adalah sebagai berikut jika dibagi berdasarkan level kecepatannya:
- Super cepat: 1–2 minggu (kondisi ideal)
- Normal: 1–2 bulan
- Padat antrean atau banyak revisi: 3–4 bulan
Dari pengalaman pribadi, memang ada yang cepat dan ada yang lama. Namun yang paling menentukan bukan hanya penerbit, melainkan kesiapan dan profesionalisme penulis itu sendiri.
Jadi, Berapa Lama Sebenarnya?
Jawaban paling jujur adalah tergantung. Tergantung penerbitnya, kesiapan naskahnya, jenis bukunya, dan kelengkapan administrasinya.
Daripada fokus pada cepat atau lambat, lebih baik fokus pada kualitas dan kesiapan. Karena buku ber-ISBN bukan soal buru-buru terbit, tapi soal karya yang siap dipertanggungjawabkan dalam jangka panjang.
Kalau kamu sedang menyiapkan buku pertamamu, pastikan kamu tidak hanya mengejar ISBN, tetapi juga proses yang matang dan strategis. Nah, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya adalah, sudah sampai mana naskah yang ingin kamu terbitkan itu?
Jangan sampai buru-buru ingin menerbitkan buku dan mendapatkan ISBN, tapi menuliskannya saja malas. Jadinya, naskah hanya ada di angan-angan saja tidak kunjung terselesaikan. Ups, izinnn.






Posting Komentar